Sambil menahan sebel membaca blog orang sakit di berita muslim sahih dengan alamat beritamuslim.wordpress.com saya akan mengutip berita beebrpa hari yang lalu, Duka atas meninggalnya KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tidak hanya dirasakan para santri di kalangan NU saja. Di Bangil, ratusan santri Yayasan Pesantren Indonesia (YAPI) Al Ma"hadul Islam Kenep, Beji, Bangil yang beraliran syiah juga turut berbela sungkawa.
Kemarin (2/1) sekitar 315 santri di pesantren tersebut menggelar tahlil dan doa bersama untuk Gus Dur. Ratusan santri tingkat SMP, SMA, maupun hauzah itu melaksanakan tahlil di masjid Al Tsaqolain. Kepala pesantren YAPI Abdul Mukmin menuturkan, doa dan tahlil kemarin adalah bentuk penghormatan kepada Gus Dur.
Sekitar pukul 10.30, ratusan santri sudah berkumpul di masjid dengan jubah putihnya. Di dalam masjid, doa-doa tahlil pun dibacakan. Dipimpin oleh Ustad Segaf Assegaf, para santri membaca surat Yasin dan surat-surat surat pendek Alquran dengan khusyuk. Para santri itu membaca doa dengan antusias.
Bagi para santri syiah itu, tahlil adalah rutinitas yang sering dilakukan di pondok. Namun, acara tahlilan yang kemarin khusus untuk Gus Dur. Keluarga besar YAPI turut bersedih atas meninggalnya Bapak Bangsa itu.
"Beliau adalah tokoh pluralisme yang tidak membeda-bedakan sebuah kelompok. Termasuk syiah," terang Ustad Abdul Azis Marzuki, Wakil Kepala Pesantren YAPI ketika ditemui sebelum acara tahlil digelar.
Berkat kepemimpinan Gus Dur, kata Abdul Azis, kaum syiah Indonesia merasa tenang beribadah. Apalagi ketika presiden keempat RI itu pernah mengatakan ada kemiripan antara konsep NU dan syiah.
"Konsep pluralisme beliau, menjadikan bangsa Indonesia tidak memandang adanya perbedaan. Beliau pernah menyebut, niscaya suatu hal yang berbeda itu adalah hal yang bisa dijadikan pengikat untuk bersatu," papar Abdul Azis kepada Radar Bromo.
Tak heran ketika Gus Dur menjabat presiden, kelompok syiah termasuk yang ada di Kenep ikut merasakan senang. "Terutama dengan ucapan Gus Dur yang menyebut syiah itu sama dengan Islam lain. Tak ada bedanya antara Islam syiah dengan Islam Ahlusunnah Wal Jamaah," terangnya lagi.
Bahkan, lanjut dia, Gus Dur juga pernah menyebut Alquran yang dipercaya kelompok syiah sama isi dan pemahamannya dengan yang dipercayai kelompok sunni. "Semua Islam itu menganggap muslimin lainnya sebagai saudara. Saudara muslim. Itulah yang membuat kami berpikir kenapa Gus Dur sangat berarti bagi bangsa ini. Beliau ingin menyatukan perbedaan yang ada," tambah Segaf Assegaf.
Maka itu, begitu mendengar berita meninggalnya Gus Dur, kaum syiah juga ikut bersedih. Mereka merasa sangat kehilangan tokoh yang digelari guru bangsa itu. "Berkat Gus Dur, kami semakin menyadari bahwa musuh Islam itu sejatinya seperti zionis. Dan antara aliran di Islam, Gus Dur tidak pernah menganggap ada perbedaan," ujar Segaf Assegaf menambahkan.
Perasaan dekat terhadap Gus Dur tak hanya dirasakan oleh para pengurus pesantren. Di kalangan santri pun nama Gus Dur melekat kuat. Muhammad Hadad, santri hauza YAPI bahkan mengaku mengenal Gus Dur sejak kecil. "Saya pernah bertemu beliau. Waktu itu saya terkesima dengannya.
Selain pintar, Gus Dur adalah sosok yang mengedepankan Bhinneka Tunggal Ika," papar santri YAPI yang kemarin tampak khusyuk berdoa itu. Kesan senada juga diungkapkan Asrowi, santri yang mengaku dari SMA YAPI. Menurutnya, sosok Gus Dur sangat berperan besar dalam tatanan umat muslim di Indonesia. Khususnya bagi kaum syiah seperti dirinya.
"Beliau kan memandang, umat muslim di dunia meski beda aliran, semuanya sama. Tak ada yang dikotak-kotakkan oleh beliau. Makanya kami sangat menghormati beliau. Terutama terhadap gagasan dan pikirannya," ujar Asrowi.
Rabu, 06 Januari 2010
Santri Syiah Doakan Gus Dur
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar